
METROSRIWIJAYA - JAKARTA: Masjid Istiqlal Jakarta dibangun untuk memperingati kemerdekaan Indonesia dan dibuka untuk umum pada tahun 1978.
Masjid terbesar di Asia Tenggara ini lebih dari sekadar simbol kemerdekaan namun mewakili toleransi dan pluralisme di Indonesia, karena dibangun oleh seorang arsitek Kristen dan berdiri tepat di seberang katedral Jakarta. Para pemimpin dunia seperti Angela Merkel, Narendra Modi dan Barack Obama telah mengunjungi masjid tersebut.
Renovasi besar baru-baru ini mengirimkan pesan penting lainnya kepada dunia: energi terbarukan dan perubahan iklim. Saat ini terdapat 504 panel surya yang telah terpasang, menghasilkan tenaga setara 150.000 watt-peak (Wp).
“Panel surya ini membantu menghemat pemakaian listrik bulanan kami,” kata Suhendri, teknisi masjid Istiqlal seperi dikutip CNA.
Sementara panel surya di masjid atau rumah ibadah masih relatif langka di Indonesia, pemerintah Jakarta berjanji tahun lalu untuk memasang lebih banyak panel surya di kota, terutama di gedung-gedung pemerintah dan sekolah.
Langkah tersebut diambil sejalan dengan kebutuhan untuk memerangi perubahan iklim di Jakarta. Meluncurkan inisiatif udara bersih Jakarta pada bulan September, gubernur Anies Baswedan mengatakan: “Para ahli memperkirakan bahwa polusi udara telah menyebabkan lebih dari 5,5 juta kasus penyakit polusi udara di Jakarta setiap tahun. Itu hampir 11 kasus setiap menit … Sebagai pengakuan atas pentingnya tentang udara bersih, saya mengeluarkan instruksi gubernur nomor 66 pada Juli tahun lalu yang menetapkan tujuh solusi yang harus dilakukan pemerintah Jakarta untuk udara bersih. ”
“Diantara solusinya, kita mengupayakan pemasangan lebih banyak panel surya di gedung-gedung pemerintah, mempercepat pembangunan mass rapid transit serta meningkatkan penggunaan energi bersih untuk transportasi,” tambahnya.
CR1